Percakapan, Bissu, dan Sekolah

"Ijazah hanya sebuah tanda bahwa kita pernah sekolah, bukan tanda bahwa kita pernah berpikir."
-anonim 

foto wisuda
foto setelah ujian skripsi

Menghabiskan 7,5 tahun bersekolah sastra dianggap sesuatu yang sungguh kurang efektif oleh ibu saya. Baginya, beberapa hal dalam hidup bisa diringkas menjadi lebih efektif dan efisien sehingga mengurangi keinginan untuk menyesal di masa depan. Namun, sekali lagi saya menjawab pernyataannya dengan pertanyaan, seperti yang biasa saya lakukan seumur hidup padanya. Sesignifikan apa masa depan? Bukankah hidup selalu hanya tentang detik ini, karena di detik berikutnya bisa saja kita tertabrak bus atau moksa? 

Dan tentu saya, ibunda tercinta akan menjawab: "Can you, for any moment of your life, just keep something simple just being simple? Kebiasaan burukmu adalah selalu membuat hal-hal sederhana jadi sangat rumit, bahkan yang hanya di dalam kepalamu." 

Mengenal ibu saya sendiri selama 25 tahun tentu sudah membuat diri ini siap atas segala kemungkinan yang dia ucapkan. Namun, satu hal yang tidak bisa berhenti untuk saya syukuri adalah ibu saya tahu bahwa selama 7,5 tahun masa sekolah saya habiskan bukan hanya untuk belajar sastra saja. Dia tahu, dia selalu mengamini bahwa dia tahu, meski tidak paham, bahwa 7,5 tahun itu saya belajar banyak hal.
Pada akhirnya, sekolah sastra saya dianggap selesai. Bonusnya, saya menjadi cukup akrab dengan berbagai literatur mengenai Bissu dan Bugis. Karya akhir saya mendedah buku Faisal Oddang yang berjudul Tiba Sebelum Berangkat. Novel ini menyenangkan dibaca asal jangan sambil makan karena bisa jadi kamu jijik. Oddang, sekali lagi mencoba menampilkan tokoh-tokoh dalam novelnya berwarna abu-abu, tidak hitam tidak pula putih. Sama seperti dalam Puya ke Puya, jiwa tokoh-tokoh buatan Oddang semirip mungkin ia rancang menyerupai manusia sesungguhnya: bahwa selalu ada kejahatan yang tumbuh subur bersama dengan berbagai kebaikan di diri kita.

Dalam Tiba Sebelum Berangkat, terdapat tokoh seorang bissu bernama Mapata, yang menjalani berbagai kesengsaraan hanya karena apa yang ia percaya. Tiba Sebelum Berangkat tidak hanya menyuguhkan peristiwa, namun meminta pembaca ikut mengalami. Kamu bahkan tidak perlu memiliki backround knowledge tentang bissu terlebih dahulu untuk mengalami ngilu yang dirasakan Mapata ketika lidahnya dipotong. Saya ceritakan semua itu pada ibu saya, agar ia tertarik membaca Tiba Sebelum Berangkat dan punya bahan untuk alasan menangis sedih seminggu. 

Dia menggeleng dan minta diceritakan saja lengkapnya. Bertuturlah saya tentang 5 jenis gender di Bugis sana: pria (orowane), wanita (makkunrai), perempuan berperilaku laki-laki (calalai), laki-laki berperilaku perempuan (calabai), dan bissu. Orowane dan makkunrai sudah sangat akrab bagi semua orang. Sedangkan calalai dan calabai sebenarnya secara praktik hidup berdampingan dengan kita, hanya saja di Bugis dua gender ini mendapat pengakuan dari masyarakatnya. Namun bissu adalah hal yang cukup unik. Gender ini dianggap sebagai perpaduan dari keempat gender lain yang ada di Bugis, dalam satu tubuh manusia. Bissu merupakan figur spiritual dalam kepercayaan Bugis. Pada akhirnya, seperti semua muara cerita tentang minoritas dan mayoritas, bissu kemudian dianggap sebagai sosok yang menyimpang dari ajaran kepercayaan mayoritas. Mereka diburu habis-habisan untuk memilih kehidupan selayaknya mayoritas dan memilih gender umum orowane-makkunrai, atau mati. Serangkaian opresi terus diupayakan terutama ketika serangan DI/TII Kahar Muzakar tahun 1953 di Sulawesi Selatan. Jumlah bissu yang sebelumnya pun tidak terlalu banyak, langsung berkurang drastis pada saat itu. Kini komunitas bissu, meski dengan napas tersengal, masih terus berusaha hidup di tengah gempuran modernisasi. 

Saya mengakhiri cerita saya dengan mengatakan bahwa banyak sekali hal sederhana di luar sana yang dibuat rumit hanya karena berbeda. "Nduk, ingat, ya. Waktu nggak bisa dikembalikan. Kita nggak bisa menjalani hidup dengan mundur," ujar Ibu saya.

Ucapannya sungguh tidak terasa memiliki korelasi dengan pernyataan saya sebelumnya. Namun, Ibu saya tetap jadi ibu saya yang tanpa sadar sering berbahasa dengan banyak metafora. "Mau rumit atau gampang, beda atau sama, kuncinya itu ya harus paham kalau kita ini bergerak ke masa depan. Ya, memang bisa saja besok ditabrak bus atau moksa, tapi intinya kita bergerak ke masa depan terus menerus. Mau rumit atau gampang, beda atau sama, kalau tidak adaptasi, ya, akhirnya...wuss. H-i-l-a-n-g. Gitu, lho. Cuma gitu kok harus pakai sekolah 7 tahun lebih gak mari-mari, tak sambi nggoreng tempe juga bisa." 

Kampret benar memang!



Komentar

  1. hahaha aku selalu suka caramu menulis dan bercerita. terus menulis ya cig.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, siapa pun kamu. Semoga hari-harimu menyenangkan, ya. Sering-sering mampir :)

      Hapus
  2. Setelah membaca karya Kak Cig. di kumpulan novel yang diterbitkan kibul, seketika aku langsung terbius. Betapa Kak Cig. sangat hebat sekali dalam menyampaikan cerita dengan sederhana. Selepas darisana aku jadi senang untuk mengunjungi blog Kak Cig. Setelah baca ini, aku harus bilang bahwa Kak Cig gak sia-sia kok kuliah sampai 7,5 tahun. Tulisanmu nyatanya mampu mempengaruhiku Kak, terima kasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terharu banget baca komentar ini. Aku malu ada yang baca tulisan fiksiku tapi sekaligus senang sekali. Terima kasih Vivi. Sering-sering mampir, ya. Hehe :)

      Hapus

Posting Komentar